16 June 2020

Buchtar Tabuni Cs Bukan Tahanan Politik, Murni Otak Kerusuhan

DUTA – Jayapura, Berbagai opini liar tercipta pasca jaksa menuntut terdakwa kasus kerusuhan Buchtar Tabuni dengan 17 tahun penjara. Banyak pihak mengklaim bahwa Buchtar adalah korban rasisme sehingga tidak sesuai dengan tuntutan yang dilampau terlalu lama ancamannya atau bahkan tidak sesuai

Dilansir PAPUATODAY.ID Tanggal 8 Juni 2020, Yang telah menjadi asumsi publik tersebut tidaklah benar, sebab persidangan kasus Buchtar Cs bukan menimpal pada kasus rasisme. Tuntutan yang dimaksudkan untuk membebaskan 7 tahanan kriminal dan kerusuhan di jayapura tahun 2019 lalu itu sangat tidak tepat. Sebab Buchtar adalah otak kerusuhan walaupun dalam aksinya ia menunggangi aksi demonstran yang menyuarakan anti rasisme.

Kelompok United Liberation Nation for West Papua (ULMWP) dan fraksi lain seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) diduga telah melakukan propaganda untuk memutar balikkan fakta sehingga publik yang awam dengan pelik kasus Papua akan membenarkan tindakan Buchtar Tabuni dan kelompoknya.

Menilik berbagai kekacauan yang diakibatkan oleh provokator dimana berbagai rumah sengaja dibakar, kendaraan pribadi yang merupakan benda mati dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rasial pun hangus terbakar. Ekonomi lumpuh total, penjarahan dan pembunuhan merebak seolah hal itu menjadi wajar.

Jangan membangun stigma bahwa mereka adalah tahanan politik. Mereka bukan tahanan politik karena Buchtar Cs tidak terbukti melakukan kejahatan politik, mereka dihukum karena menjadi provokator dari kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Buchtar memang korban rasisme, tapi Buchtar juga pelaku kerusuhan.

Salah seorang pengguna media sosial bernama J. Kogoya yang diketahui berada di Jayapura ketika rusuh terjadi pun mengatakan bahwa Buchtar Tabuni dan kelompoknya pantas mendapatkan hukuman seperti tuntutan jaksa. Kogoya berasumsi bahwa kerusuhan yang terjadi pada 2019 lalu cukup membuat seluruh elemen masyarakat geram dan ketakutan.

Kogoya yang merupakan mahasiswa aktif salah satu universitas di Jayapura mengatakan bahwa selain Buchtar ia menerka ada pihak lain yang ‘bermain’. Hal tersebut disampaikannya pasca terjadi aksi penyampaian pendapat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa di Auditorium Uncen kemarin (06/06/2020). “Saya rasa ada kelompok tertentu yang bermain dan mencoba melakukan provokasi. Jika itu benar terjadi tentunya mahasiswa sendiri yang akan menjadi korban.”

YouTube
YouTube
Instagram