11 January 2022

Anak Kiai Jombang Resmi Tersangka, ISNU Jatim Ambil Sikap Tegas Taati Hukum !

Duta.news – Kasus pencabulan santriwati yang menjerat MSA (41), anak kiai di Jombang memancing reaksi sejumlah pihak, diketahui MSA yang juga seorang wakil rektor pesantren yang dikelolanya itu telah ditetapkan tersangka dan kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan Polda Jatim. 

Kabar ini langsung direaksi Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans. 

Dia meminta semua pihak harus mengedepankan hukum yang berlaku, dan tidak memandang status sosial krena dimata hukum semua warga Indonesia adalah sama.

“Siapapun pelakunya, dia adalah warga negara Indonesia. Sehingga, memiliki kewajiban untuk mentaati aturan humum yang berlaku,” kata Gus Hans, Sabtu (15/1/2022). 

Lebih jauh, Ketua Ikatan Alumni UPN Yogyakarta menilai tidak arif ketika masalah individu dikaitkan dengan lembaga atau institusi tertentu. Termasuk, dengan keterlibatan pesantren. 

“Kita tidak boleh melembagakan permasalahan personal. Jangan membawa bawa bawa institusi hanya untuk melindungi tindakan yang dilakukan oleh orang per orang. Walaupun orang tersebut memiliki ‘saham atau jasa’ yang besar dalam institusi tersebut,” tegasnya. 

Keterlibatan lembaga hanya akan membenturkan antar sesama masyarakat. Ini akan menimbulkan permasalahan sosial masyarakat berkepanjangan. 

“Kita jadi teringat kasus Suni-Syiah beberapa waktu lalu yang ternyata ‘hanya’ berawal dari perselisihan keluarga saja. Kemudian, ini menjadi isu nasional hingga berujung pengusiran,” kata Dewan Penasihat PW GP Ansor Jatim ini. 

Selain sosial masyarakat, hal ini juga akan menimbulkan kesan negatif kepada lembaga, institusi, bahkan komunitas yang bersangkutan. 

“Mereka tidak sadar bahwa praktek melembagakan permasalahan personal ini justru akan mendowngrade,” katanya. 

“Bukan hanya institusinya saja, tetapi seluruh komunitas yang sewarna dengan mereka, dan kita semua pun akan terkena dampaknya,” jelas Gus Hans. 

Menurut Gus Hans, kasus pelecehan seksual yang terjadi di pesantren bukan hal baru, seperti halnya kasus kriminal lainnya. Terutama, dalam kontek pemanfaatan agama dan kekuasaan dalam melancarkan modus operandinya. 

Hal serupa juga terjadi di gereja, misalnya antara pimpinan gereja dengan jemaatnya. Juga di kantor kantor milik negara dan swasta antara atasan dan bawahannya dengan alat ketakutan dan ancaman. 

Oleh karenanya, setiap kasus harus bisa diselesaikan secara aturan yang berlaku. “Maka dalam hal ini perlu kita bersikap tegas kepada siapapun,” katanya. 

Di Warning Polda Jatim 

Setelah ditetapkan sebagai buronan, MSA kini menjadi buruan tim Ditreskrimum Polda Jatim. 

Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Totok Suharyanto menegaskan, setelah diterbitkannya surat DPO atas nama MSAT, pihaknya akan menjemput paksa tersangka dari tempat dirinya berada. 

“Kami sudah menerbitkan (surat) DPO, untuk selanjutnya kami akan melaksanakan upaya paksa, tinggal teknis waktunya akan kami atur kemudian,” ujarnya di Halaman Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Jumat (14/1/2022). 

Totok menerangkan, pihaknya dalam hal ini, penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, telah melayangkan surat pemanggilan pertama, pada Jumat (7/2/2022) kemarin, seusai berkas kasus yang menjeratnya dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi Jatim atau P-21, pada Selasa (4/1/2022). 

Namun, dari pihak pengacara menyampaikan, bila MSAT sedang sakit sehingga tidak memungkinkan untuk memenuhi agenda pemanggilan tersebut, dan meminta waktu hingga Senin (10/1/2022). 

“Pemanggilan kedua tanggal 10 Januari kami telah layangkan, namun yang bersangkutan tidak hadir, untuk keterangan tidak hadirnya sampai sekarang kami belum dapat fakta itu,” jelasnya. 

Bahkan, penyidik sempat mendatangi kediaman MSAT untuk mengantarkan surat perintah yang berisi informasi yang menghendaki petugas untuk membawa tersangka. 

Namun, upaya penyidik itu, malah dihadang ratusan massa yang bersiaga di sekitar area kompleks lembaga pendidikan yang dikelola orangtua MSAT. 

Dan upaya penghadangan itu, sempat diabadikan dalam sebuah rekaman video berdurasi tak lebih dari 2 menit, hingga viral di media sosial pada Kamis (13/1/2022). 

Video tersebut menunjukkan anggota polisi berpakaian sipil tampak dihalau saat akan masuk di komplek lembaga pendidikan yang dikelola keluarga atau orangtua MSAT. 

Dalam video seorang pria mengaku utusan Polda Jatim hendak mengantarkan surat panggilan untuk MSAT, yang berstatus tersangka dugaan kasus rudapaksa. 

“Saya hanya menjalankan tugas mengantarkan surat panggilan untuk Mas Bekhi (MSAT) kalau tidak ada tidak apa-apa, kami tidak akan mengganggu ketentraman bapak-bapak,” ujar pria dalam video itu. 

Sementara puluhan massa yang mengadang beberapa kali melantunkan bacaan, “Ya Jabbar, Ya Qohar.”

@(Purnomo)

YouTube
YouTube
Instagram